Cerita Wisata Dieng
Dieng merupakan dataran tinggi yang terletak di daerah Wonosobo jawa tengah, aku dengan teman-teman ngopi bertiga (aku, Andin dan Qori) berencana mengunjungi wisata ini pada tanggal 2 februari 2013. Perjalanan ditempuh dengan kereta api logawa tujuan purwokerto. Sungguh lama perjalanan yang kami tempuh, hampir seharian di dalam kereta, sampai benar2 mati gaya. Ada kejadian di perjalanan yang benar-benar tak bisa aku lupakan, ketika ada pengamen banci sedang mengamen dalam kereta. Aku sama sekali tidak mempunyai uang receh, sedangkan Qori punya tapi tidak mau memberikan. Ending yang suram hampir 10 menit aku kena colek-colek si banci. Hiiiiiiii................ !!!!!!!!!!
Sampai di Purwokerto malam hari, masing-masing mandi di stasiun. Hwaa. . . .ternyata aku tak bawa ganti baju, benar-benar apes. Kemudian kami bemalam di stasiun Purwoketo. Makan malam khas purwokerto tak luput kami nikmati, “Mendowen” makanan khas purwokerto. Dijamin maknyus!!!!. . .tahukah anda stu porsi hanya Rp. 3000,-. Pengertian banget sama backpacker hehehehe
Pagi hari perjalanan kembali dimulai naik angkot menuju terminal dan naik bus antar kota ke wonosobo. Terik siang matahari tak terasa akibat dinginnya dataran tinggi dieng. Jalan kaki kita lalui menuju telaga warna dieng. Disana ada beberapa rekan BPI(Backpacker Indonesia) yang rela meluangkan waktu untuk menemani kami menikmati wahana dan menyediakan tempat menginap serta kendaraan.
Sore sampai malam akhirnya menuju rumah rekan BPI untuk menginap semalam dan melanjutkan esok pagi pendakian bukit sikunir,(mengejar sun rise tentunya).
Pendakian bukit sikunir dimulai pukul 03.00 WIB. Dingin sekali menusuk kulit, kira-kira suhu sekitar 0°C, sampai menghilangkan keinginan mandi sebelum berangkat. Perjalanan menuju desa sembungan memakan waktu 45 menit, sembungan merupakan desa tertinggi se asia. ktinggian mencapai 2300 m di atas permukaan air laut. Pemandangan puncak bukit sikunir kami dapatkan, WOW kereennnn abiiiizzzzzzz . . ini sebagian yang tertangkap kamera kami
Setelah menikmati sun rise sikunir, masih banyak lagi tempat yang dikunjungi yaitu ada kawah si Kidang, dan candi candi peninggalan sejarah tak luput kami sambangi. Terjadi konflik batin tentang rekan BPI (Mogel) yang rela membantu akomodasi trip ini endingnya menodong tarif yang tinggi, kan rencana memang backpacker tanpa ada guide yang memandu wisata. Tetapi mereka melakukannya, bahkan untuk flyfox sendiri kami dikasih tarif gratis. . . .!!!!! lumayan bukan??
Konflik terus berlanjut, perdebatan diantara kami mengiringi langkah pulang ke rumah, berbagai prediksi bermunculan?? Maklum takut budget kurang. Gak bisa pulang hehhhe. . . .dan ternyata tak semahal yang kami kira, aman untuk deh. ..yang mau ke dieng, jangan lupa beli oleh-oleh buah khas dieng, “carica”. Buah ini tidak bisa dimakan langsung, umumnya diolah sebagai manisan disajikan dalam bentuk kemasan. Buah mirip pepaya, tapi kecil seperti kedondong.
Turun dari puncak dieng, kami menuju wonosobo, di kota ini transit untuk makan malam dan menginap, sebelum mulai perjalanan lagi esok hari, tak lupa mengicipi masakan khas wonosobo, mie ongklok. Makanan ini hampir mirip dengan mie ayam, akan tetapi ayam yang disajikan dipisah dan dalam bentuk disate. Rasa yang khas mewarnai trip di wonosobo :)















